
Efek herding adalah kecenderungan individu untuk mengikuti tindakan mayoritas, terutama saat menghadapi ketidakpastian atau keterbatasan informasi. Alih-alih mengambil keputusan berdasarkan riset mendalam, banyak orang menganggap “semua orang melakukannya” sebagai sinyal yang sah.
Di lingkungan trading, efek herding sering dipicu oleh pergerakan harga, hype media sosial, dan peringkat papan peringkat. Sebagai contoh, ketika sebuah token mengalami lonjakan harga mendadak, banyak trader menafsirkan hal ini sebagai konfirmasi tren dan segera ikut masuk.
Pasar kripto sangat rentan terhadap efek herding karena informasi yang terfragmentasi, volatilitas tinggi, dan hambatan masuk yang rendah. Perubahan harga yang cepat menyisakan sedikit waktu untuk riset atau analisis mendalam, sehingga mengikuti tindakan orang lain sering dianggap sebagai strategi yang efisien.
Media sosial juga sangat berperan dalam membentuk narasi kripto. Topik tren dan tangkapan layar grafik K-line (candlestick) dapat menyebar luas secara cepat, menciptakan persepsi bahwa “kerumunan pasti benar,” sehingga memperkuat perilaku trading berbasis herd.
Efek herding didorong oleh dua mekanisme psikologis utama: social proof dan information cascade. Social proof adalah kecenderungan mempercayai pilihan mayoritas. Information cascade terjadi ketika individu mengabaikan informasi pribadinya dan bertindak berdasarkan apa yang dilakukan orang lain—seperti antrean di depan restoran yang dianggap “pasti bagus.”
Dalam trading, kenaikan harga awal bisa dipicu oleh sekelompok kecil investor. Namun, pembeli berikutnya menganggap kenaikan harga berturut-turut sebagai sinyal yang semakin kuat dan masuk tanpa mengecek fundamental, sehingga terjadi partisipasi berantai.
Manifestasi umumnya meliputi membeli saat harga naik (“buying tops”) atau menjual saat harga turun (“panic selling”), mengejar topik atau papan peringkat tren, buru-buru membeli NFT, serta menggunakan leverage pada trading derivatif. Leverage adalah meminjam dana untuk memperbesar posisi, yang memperbesar potensi keuntungan maupun kerugian.
Misalnya, saat memecoin tertentu mendapat perhatian besar di media sosial, harga jangka pendek bisa melonjak tajam, menarik lebih banyak pembeli; ketika hype mereda, koreksi harga bisa terjadi secepat itu juga. Pada minting NFT, partisipasi massal dapat menaikkan biaya gas, menyebabkan banyak orang mengalami “takut ketinggalan” dan ikut antre—sering kali dengan biaya tinggi dan peluang sukses kecil.
Pada halaman pasar Gate, daftar top gainers, dan pencarian tren, aktivitas pengguna yang terkonsentrasi sering menjadi tanda awal efek herding. Jadikan hal ini sebagai “peringatan” bukan “kesimpulan” untuk pengambilan keputusan yang lebih bijak. Fitur copy trading memungkinkan pemula mengikuti trader berpengalaman, namun tetap penting untuk menetapkan batas risiko dan batas posisi pribadi.
Saat berpartisipasi dalam peluncuran proyek baru atau sektor tren, tinjau pengungkapan proyek, periksa kedalaman order book (semakin tebal order book, semakin baik likuiditas), dan evaluasi volatilitas historis sebelum memutuskan bagaimana atau apakah akan ikut berpartisipasi—bukan sekadar ikut-ikutan karena “semua orang juga ikut.”
Perhatikan lonjakan volume trading yang tiba-tiba bersamaan dengan peningkatan diskusi di media sosial. Jika volume 24 jam dan minat pencarian melonjak tanpa perubahan fundamental yang berarti, reli tersebut biasanya didorong oleh herd. Pada bull market 2021–2022, volume NFT dan hype media sosial naik tajam di berbagai platform, lalu menurun signifikan di akhir 2022.
Amati juga konsentrasi wallet dan likuiditas. Jika hanya sedikit alamat yang memegang sebagian besar aset atau order book tipis, harga lebih rentan terhadap fluktuasi emosional. Masuknya alamat wallet baru secara cepat dengan tingkat retensi rendah dapat menandakan arus herd spekulatif yang keluar sama cepatnya.
Efek herding sangat berkaitan dengan FOMO (“Fear of Missing Out”). FOMO adalah respons emosional; efek herding adalah pola pengambilan keputusan perilaku di mana emosi mendorong orang mengikuti kerumunan. Kombinasi keduanya membuat perilaku mengejar momentum lebih umum—dan koreksi harga lebih tajam.
Gelembung terjadi ketika harga jauh melebihi nilai intrinsik. Efek herding memang tidak selalu menyebabkan gelembung sendirian, tetapi information cascade dan trading leverage membuat gelembung lebih mudah terbentuk—dan pecah. Mengenali tumpang tindih fenomena ini dapat membantu mengurangi risiko saat volatilitas tinggi.
Efek herding adalah fenomena yang selalu ada di pasar kripto: informasi terfragmentasi, penyebaran media sosial yang cepat, dan volatilitas tinggi membuat mengikuti mayoritas tampak efisien. Dengan memahami mekanismenya (social proof dan information cascade), mengenali sinyalnya (lonjakan volume, topik tren, kepemilikan terkonsentrasi, likuiditas tipis), serta menerapkan kontrol praktis (perencanaan, verifikasi, pengaturan posisi, stop-loss, leverage hati-hati), Anda dapat secara signifikan mengurangi kerugian akibat trading berbasis herd. Semua investasi mengandung risiko—terutama saat emosi mendominasi—jadi kembalilah pada disiplin berbasis bukti dan jadikan papan peringkat serta daftar tren sebagai pemicu riset, bukan keputusan akhir.
Efek herding menggambarkan fenomena psikologis di mana orang cenderung meniru perilaku atau pendapat orang lain. Ketika mayoritas melakukan sesuatu, secara naluriah kita ingin mengikuti—meskipun pilihan itu belum tentu optimal. Di pasar kripto, ini sering muncul saat investor membeli token hanya karena orang lain melakukannya atau menjual secara massal saat harga turun.
Efek herding meningkatkan volatilitas pasar, menyebabkan harga aset naik atau turun secara tidak rasional. Ketika banyak investor masuk ke satu aset secara bersamaan, gelembung bisa terbentuk; panic selling yang meluas dapat memicu penurunan harga yang cepat. Perilaku kelompok ini sering mengabaikan fundamental proyek, sehingga trader ritel lebih sering membeli di harga tinggi atau kehilangan peluang.
Pertama, berpikirlah secara mandiri—pelajari fundamental proyek sebelum berinvestasi, jangan hanya mengikuti hype komunitas. Kedua, waspadai harga yang sangat menyimpang dari rata-rata historis; tetapkan disiplin trading dan aturan stop-loss pribadi. Terakhir, di Gate, andalkan informasi proyek yang tersedia publik dan data on-chain, bukan keputusan berdasarkan obrolan komunitas saja.
Efek herding adalah peniruan pasif yang dipicu oleh tindakan orang lain—fokusnya pada meniru perilaku kelompok. FOMO adalah kecemasan psikologis aktif—takut kehilangan peluang keuntungan sehingga memicu pembelian impulsif. Keduanya menyebabkan keputusan irasional, namun pemicunya berbeda: satu karena tekanan sosial, satunya lagi karena ketakutan pribadi.
Gelembung ICO tahun 2017 adalah contoh klasik—investor membabi buta mengikuti tren hingga terjadi penggalangan dana berlebihan dan akhirnya lebih dari 90% proyek gagal. Lonjakan Dogecoin pada 2021 juga menunjukkan kekuatan efek herding: diskusi viral di Twitter mendorong ribuan trader ritel masuk pasar. Kasus-kasus ini menegaskan pentingnya analisis rasional di tengah hype pasar—gunakan alat data profesional seperti yang tersedia di Gate untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.


