
Descending triangle adalah pola harga yang sering muncul dan menandakan meningkatnya tekanan jual. Pola ini terbentuk oleh level support yang cenderung datar—tempat pembeli berulang kali menahan penurunan lebih lanjut—dan garis resistance yang menurun, mencerminkan level tertinggi yang makin rendah seiring penjual terus menekan harga. Pergerakan harga berosilasi dan menyempit di antara kedua garis ini. Trader biasanya mengamati dengan saksama terjadinya breakdown yang jelas di bawah support, idealnya disertai lonjakan volume, sebagai sinyal awal tren bearish baru. Namun, tidak semua descending triangle berujung pada breakdown; kadang-kadang justru terjadi breakout ke atas.
Descending triangle secara visual menunjukkan meningkatnya tekanan jual dan melemahnya permintaan, sehingga memudahkan manajemen risiko dan penentuan waktu masuk pasar.
Di pasar kripto yang volatil dan berjalan 24 jam, mengandalkan intuisi saja sangat berisiko. Descending triangle membantu Anda mengenali dengan cepat jika level support diuji berulang kali dan puncak pantulan semakin rendah—peringatan bahwa breakdown dapat memicu penurunan harga yang lebih tajam. Untuk spot trading, pola ini dapat menjadi penanda untuk mengurangi posisi atau menetapkan stop-loss; untuk derivatif, bisa menjadi sinyal untuk menurunkan leverage atau menunggu entry yang lebih stabil.
Misalnya, setelah periode sideways, BTC bisa membentuk descending triangle di mana support diuji berkali-kali dan kekuatan pantulan makin lemah. Jika harga breakdown dengan volume tinggi, volatilitas biasanya melonjak, dan pengenalan dini dapat membantu Anda menghindari posisi rugi.
Inti pola ini adalah penjual yang terus menurunkan harga penawaran sementara pembeli mempertahankan level support yang sama hingga akhirnya melemah.
Setiap pantulan yang makin rendah menunjukkan semakin banyak modal bersedia menjual di harga lebih rendah. Pengujian support berulang berarti ada order beli di level tersebut, namun seiring waktu order book makin tipis. Jika minat beli melemah atau muncul sentimen negatif, harga berpotensi mengalami breakdown tajam.
Breakdown yang dikonfirmasi oleh lonjakan volume (jumlah transaksi dalam periode tertentu) menandakan konsensus pasar atas arah pergerakan. Pola harga umum adalah “pullback”—setelah support ditembus, harga memantul ke support lama (yang kini menjadi resistance); jika pullback gagal dan harga kembali turun, tren cenderung berlanjut. Waspadai “false breakout,” di mana harga sempat menembus support namun langsung pulih dan ditutup di atasnya—biasanya menandakan kekuatan beli mendadak atau short covering.
Descending triangle banyak ditemukan di pasar spot dan perpetual contract, dengan breakdown yang sering diiringi perubahan volume dan indikator derivatif.
Di pasar spot Gate, koin utama seperti BTC dan ETH sering membentuk descending triangle pada chart harian atau 4 jam. Jika support diuji berulang kali dan candle bearish besar ditutup di bawah support dengan volume tinggi, potensi penurunan lanjutan meningkat. Pada altcoin dengan order book tipis, breakdown sering disertai ekor panjang dan pergerakan harga yang cepat.
Pada kontrak perpetual USDT Gate (tanpa jatuh tempo), dua indikator tambahan perlu diperhatikan: funding rate (biaya memegang posisi long/short) sering berubah dari positif ke negatif saat breakdown, menandakan dominasi short-seller; open interest (OI, total kontrak terbuka) meningkat setelah breakdown, menandakan masuknya modal baru. Jika OI naik dan volume melonjak selama breakdown, konfirmasi tren semakin kuat.
Contoh skenario: Pada chart 4 jam, suatu aset membentuk descending triangle; support diuji berulang kali, funding rate berubah dari +0,01% ke -0,02%, dan OI naik dalam satu jam usai breakdown. Entry setelah pullback gagal—bukan mengejar candle breakdown pertama—biasanya lebih aman.
Tujuan utamanya adalah mengelola risiko dan melakukan trading secara bertahap setelah ada konfirmasi—bukan mengejar harga secara impulsif.
Langkah 1: Pilih timeframe. Chart harian lebih andal; chart 4 jam dan 1 jam lebih sensitif namun lebih banyak noise. Pemula disarankan fokus pada chart harian atau 4 jam.
Langkah 2: Gambar garis dan konfirmasi. Hubungkan minimal dua titik terendah untuk support horizontal dan dua lower high untuk resistance menurun; idealnya gunakan tiga titik per garis.
Langkah 3: Tunggu sinyal. Cari harga penutupan yang menembus support disertai volume meningkat; pada derivatif, perhatikan funding rate yang berubah negatif dan open interest naik—hindari trading hanya karena satu ekor candle.
Langkah 4: Entry dan stop-loss. Dua strategi entry: break entry (setelah candle penutupan menembus support), atau failed pullback entry (harga menguji kembali support lama dan gagal). Tempatkan stop-loss di atas puncak pullback atau support awal untuk mengantisipasi false breakout.
Langkah 5: Take profit dan kelola. Gunakan “measured move”—jarak dari titik tertinggi triangle ke support—sebagai target; take profit sebagian juga disarankan. Targetkan rasio risk-reward minimal 1:1,5 atau 2:1; hindari overleverage atau posisi all-in.
Tips praktis: Perhatikan waktu rilis data penting atau event proyek dan hindari trading saat berita padat. Kesesuaian multi-timeframe meningkatkan akurasi—misalnya breakdown harian bersamaan dengan pullback gagal di chart 4 jam.
Selama setahun terakhir, konfirmasi breakdown makin mengandalkan volume dan indikator derivatif, dengan tren berlanjut setelah pullback gagal menjadi semakin konsisten.
Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, breakdown descending triangle menyumbang sekitar 60% kasus (tergantung aset dan timeframe), sejalan dengan sampel analisis teknikal jangka panjang. Untuk aset yang membentuk triangle setelah konsolidasi, volume saat breakout biasanya naik 30%–50% dari rata-rata lima hari sebelumnya (terutama pada Q3/Q4 2025).
Terkait false breakout: Pada akhir 2025, saat berita makro atau event proyek meningkat, reversal cepat setelah false breakdown makin sering; pullback berulang sebelum breakout ke atas juga makin banyak, sehingga penting untuk menunggu konfirmasi penutupan dan validasi pullback.
Di derivatif, funding rate lebih sering berubah dari positif ke negatif di hari breakdown sepanjang 2025; open interest juga lebih sering naik seiring breakdown. Ini menandakan trader leverage masuk posisi short setelah breakdown, memperkuat tren—namun jika volume melemah atau berita mengubah arah, pullback atau reversal bisa terjadi.
Tips: Setiap trader menggunakan sampel dan definisi berbeda, sehingga angka bisa bervariasi. Anda dapat backtest timeframe dan aset pilihan selama 6–12 bulan terakhir—melacak tingkat breakdown, perubahan volume breakout, dan tingkat keberhasilan pullback—untuk menyesuaikan strategi dengan gaya trading Anda.
Perbedaan utama terletak pada arah garis, psikologi pelaku pasar, dan kecenderungan arah breakout.
Descending triangle memiliki support horizontal dan resistance menurun—penjual menekan harga turun, pembeli mempertahankan support. Ascending triangle memiliki resistance horizontal dan support naik—pembeli menaikkan harga, penjual mempertahankan resistance. Descending triangle lebih sering breakdown ke bawah; ascending triangle cenderung breakout ke atas. Keduanya tetap bisa breakout ke dua arah—konfirmasi melalui penutupan dan volume sangat penting.
Dalam trading, descending triangle fokus pada pullback gagal setelah support ditembus—stop-loss ditempatkan di atas puncak terakhir atau support awal; ascending triangle fokus pada retest sukses setelah resistance ditembus—stop-loss di bawah resistance awal. Keduanya memakai target terukur dan take profit bertahap, dengan manajemen risiko sebagai prioritas utama.
Tidak—sebaiknya tunggu konfirmasi sinyal breakout. Harga memang sering breakdown dari descending triangle, tetapi bisa memantul beberapa kali sebelum itu terjadi. Pertimbangkan untuk menjual hanya jika harga benar-benar ditutup di bawah support dengan volume meningkat untuk menghindari kerugian akibat false breakout.
Garis support datar lebih penting karena menentukan arah breakout akhir. Meskipun resistance menurun menunjukkan tekanan jual melemah, support horizontal adalah “batas bawah” utama—begitu ditembus, sinyal bearish terkonfirmasi. Fokus utama trader adalah memantau kekuatan support dan terjadinya breakdown.
Biasanya memerlukan waktu beberapa hari hingga minggu tergantung timeframe dan sentimen pasar. Chart 1 jam/4 jam bisa breakout dalam hitungan jam; chart harian biasanya butuh waktu berminggu-minggu. Selama periode ini, perubahan volume dan tinggi pantulan dapat memberi petunjuk arah breakout berikutnya.
Volume yang menurun menandakan partisipasi pasar berkurang—pembeli dan penjual menahan diri. Keseimbangan ini bisa jadi awal pergerakan besar: saat breakout disertai lonjakan volume, konfirmasi perubahan tren lebih kuat. Jika volume tidak mengonfirmasi breakout, waspadai sinyal palsu.
Setelah breakout ke bawah, pasang stop-loss 5–10% di atas garis support yang ditembus. Ini memungkinkan Anda keluar cepat pada false breakout, namun tetap memberi ruang pada breakout yang valid. Anda juga bisa memanfaatkan alat manajemen risiko Gate untuk mengatur level peringatan harga mendekati support.


