Bank for International Settlements (BIS) mempublikasikan sebuah studi yang menemukan bahwa negara dengan kesehatan fiskal yang lebih lemah mengalami pass-through nilai tukar yang lebih tinggi terhadap inflasi. Penelitian berjudul “What Determines Exchange Rate Pass-Through: Empirical Analysis Using Nonparametric Methods” menganalisis data dari 98 negara selama 40 tahun. BIS mengidentifikasi ini sebagai studi pertama yang menetapkan hubungan langsung antara soliditas fiskal dan tingkat di mana depresiasi mata uang diterjemahkan menjadi kenaikan harga. Temuan tersebut menunjukkan bahwa menjaga stabilitas harga dan disiplin fiskal diperlukan untuk membatasi tekanan inflasi akibat pergerakan nilai tukar.
Studi BIS Menganalisis 98 Negara dalam Periode 40 Tahun
Makalah BIS menelaah faktor-faktor yang menentukan pass-through nilai tukar dan kontribusi relatif dari masing-masing faktor menggunakan kumpulan data yang mencakup 98 negara selama empat dekade. Studi ini memakai metode nonparametrik untuk menilai bagaimana fluktuasi mata uang memengaruhi harga domestik. BIS menemukan bahwa perubahan nilai tukar biasanya menyalur ke harga dalam kuartal yang sama atau kuartal berikutnya, yang mengindikasikan kecepatan pass-through yang cepat.
Defisit Fiskal di Atas 5% PDB Meningkatkan Pass-Through hingga 35%
Penelitian mengidentifikasi kesehatan fiskal sebagai penentu utama tingkat pass-through. Ketika defisit fiskal melampaui 5% dari PDB, tingkat pass-through mencapai 35%. Sebaliknya, negara dengan surplus fiskal 5% dari PDB mengalami tingkat pass-through hanya 17%. BIS menjelaskan bahwa pasar memandang pemerintah dengan defisit yang membesar kemungkinan besar akan bersedia menoleransi inflasi untuk menstabilkan nilai utang riil ketika mereka gagal berkomitmen secara kredibel pada konsolidasi fiskal di masa depan. BIS menyatakan bahwa makalah ini adalah yang pertama memberikan bukti yang mengaitkan pass-through nilai tukar dengan soliditas fiskal nasional.
![BIS headquarters]()
Inflasi di Atas 5% Menggandakan Dampak Depresiasi Mata Uang
Tingkat inflasi muncul sebagai variabel kritis lainnya. Inflasi rata-rata yang rendah menekan transmisi nilai tukar ke harga, tetapi tingkat pass-through meningkat secara nyata begitu inflasi melampaui 5%. BIS melaporkan bahwa tingkat pass-through pada inflasi 20% kira-kira dua kali lipat dibandingkan pada inflasi 2%. Temuan tersebut menunjukkan bahwa menjaga inflasi rata-rata tetap rendah berkorelasi dengan mempertahankan tingkat pass-through pada level moderat.
Volatilitas Nilai Tukar Menunjukkan Hubungan Berbentuk U
Volatilitas nilai tukar menunjukkan hubungan berbentuk U dengan tingkat pass-through. Pass-through paling tinggi ketika volatilitas sangat rendah atau sangat tinggi, dan terendah pada level volatilitas menengah. BIS mengaitkan pola ini dengan penetap harga yang menerapkan pendekatan tunggu dan lihat dalam penyesuaian harga ketika volatilitas bersifat moderat. Studi ini juga menemukan bahwa ekonomi yang lebih kecil cenderung mengalami tingkat pass-through yang lebih tinggi.
BIS Merekomendasikan Kebijakan Moneter dan Fiskal yang Seimbang
Penelitian ini menyiratkan bahwa bank sentral harus mengelola harga secara stabil sementara pemerintah menjaga operasi fiskal yang sehat untuk mengendalikan sejauh mana fluktuasi nilai tukar menciptakan tekanan inflasi tambahan. BIS menilai bahwa kebijakan yang secara artifisial menekan volatilitas nilai tukar atau membiarkannya berjalan tanpa kendali sama-sama berisiko menaikkan tingkat pass-through dan karena itu tidak diinginkan.
FAQ
Apa yang ditemukan studi BIS terkait defisit fiskal dan inflasi?
Studi BIS menemukan bahwa negara dengan defisit fiskal melebihi 5% dari PDB mengalami pass-through nilai tukar ke inflasi sebesar 35%, sementara negara dengan surplus fiskal 5% hanya melihat tingkat pass-through sebesar 17%.
Bagaimana tingkat inflasi memengaruhi pass-through nilai tukar?
BIS melaporkan bahwa tingkat pass-through tetap rendah saat inflasi rata-rata rendah, tetapi meningkat secara signifikan begitu inflasi melampaui 5%. Pada inflasi 20%, tingkat pass-through kira-kira dua kali lipat dibandingkan pada inflasi 2%.
Mengapa volatilitas nilai tukar menunjukkan hubungan berbentuk U dengan pass-through?
BIS menjelaskan bahwa pass-through paling tinggi pada level volatilitas yang sangat rendah atau sangat tinggi dan terendah pada level menengah karena penetap harga menunda penyesuaian harga ketika volatilitas bersifat moderat, dengan menerapkan pendekatan tunggu dan lihat.