Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan pada 28 Mei (waktu setempat) bahwa Amerika Serikat meminta dialog dengan Iran dan mengirim pesan melalui Oman yang berjanji tidak akan ada tindakan militer terhadap negara tersebut. Gharibabadi, yang memimpin tim perundingan Iran dengan AS, mengatakan kepada Tasnim News Agency yang bersifat semi-resmi bahwa Iran tidak meminta negosiasi dengan AS dalam 15 hari terakhir. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan yang sedang berlangsung terkait Selat Hormuz, tempat Iran mengklaim kendali sebagai bagian dari strategi keamanan nasionalnya setelah konflik.
Iran Menetapkan Selat Hormuz sebagai Aset Keamanan Nasional
Gharibabadi menyatakan bahwa kebijakan Iran adalah mencegah Selat Hormuz kembali ke statusnya sebelum perang. “Jika kami membuka jalur selatan Selat Hormuz, kami tidak lagi dapat menjalankan kedaulatan di selat tersebut,” jelasnya. Wakil menteri itu menegaskan bahwa Iran tidak takut terhadap langkah apa pun untuk menguatkan kedaulatannya atas selat, dengan mengatakan bahwa “bahkan dimulainya kembali perang pun bukan pengecualian.”
Gharibabadi menggambarkan Selat Hormuz sebagai kapabilitas pertahanan baru yang telah ditemukan Iran. “Selat Hormuz sekarang menjadi bagian dari keamanan nasional Iran dan telah menjadi kapabilitas pertahanan serta sarana pertahanan Iran,” katanya. Ia menambahkan bahwa langkah-langkah baru yang diterapkan pada Selat Hormuz akan berdampak jangka panjang bagi keamanan Iran, dengan mengatakan bahwa “jika Selat Hormuz kembali ke kondisi sebelum perang, kemenangan perang kami belum lengkap.”
Terkait blokade maritim AS, Gharibabadi menyatakan bahwa hal itu tidak dapat membawa Iran ke meja perundingan. “Bahkan dalam situasi blokade, kami bisa memperoleh pasokan dalam jumlah signifikan melalui beberapa jalur,” jelasnya.
Oman Mengusulkan Pengelolaan Jalur 50-50 di Selat Hormuz
Gharibabadi mengungkap detail negosiasi dengan Oman terkait Selat Hormuz. “Ada usulan untuk bernegosiasi dengan Oman mengenai jalur sementara di Selat Hormuz, dan jika kesepakatan dicapai, itu akan menggantikan jalur utara dan selatan yang ada,” katanya. Pihak Oman mengusulkan agar 50% dari jalur baru dikelola oleh Iran dan 50% oleh Oman. Gharibabadi menyatakan bahwa Iran memberi tahu Oman bahwa usulan ini tidak mengatasi kekhawatiran Iran.
Wakil menteri itu menekankan bahwa Iran tidak secara resmi mengakui jalur selatan bahkan untuk satu jam pun.
Iran Menuntut Kendali Penuh atas Jalur Masuk dalam Kontra-Usulan
Iran mengusulkan agar jalur masuk ditempatkan sepenuhnya di bawah kendali Iran, dan bahwa Iran juga harus mengendalikan sebagian jalur keluar. “Jika mereka menerimanya, kami akan masuk ke tahap berikutnya,” jelas Gharibabadi. Ia memperingatkan bahwa jika Oman tidak menerima usulan Iran terkait Selat Hormuz, selat itu akan tetap ditutup dan Iran sedang bersiap untuk dimulainya kembali perang.
Gharibabadi menegaskan kembali bahwa usulan Iran adalah menempatkan satu jalur Selat Hormuz sepenuhnya di bawah kendali Iran dan agar Iran mengendalikan sebagian dari jalur lainnya. “Skenario ini adalah posisi akhir kami, dan Iran tidak akan menerima metode apa pun yang lain,” ujarnya.
FAQ
Apa yang diusulkan Iran kepada Oman terkait jalur Selat Hormuz pada 28 Mei?
Iran mengusulkan agar jalur masuk ditempatkan sepenuhnya di bawah kendali Iran dan bahwa Iran juga harus mengendalikan sebagian jalur keluar. Kontra-usulan ini muncul setelah Oman menyarankan pembagian pengelolaan 50-50 untuk jalur sementara baru. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan ini adalah posisi akhir Iran dan negara itu tidak akan menerima pengaturan apa pun yang lain.
Mengapa Iran menolak mengakui jalur selatan Selat Hormuz?
Kebijakan Iran adalah mencegah Selat Hormuz kembali ke statusnya sebelum perang untuk menjaga kedaulatan atas jalur perairan tersebut. Gharibabadi menjelaskan bahwa jika Iran membuka jalur selatan, negara itu tidak lagi bisa menjalankan kedaulatan di selat tersebut. Iran memandang Selat Hormuz sebagai bagian dari keamanan nasional dan kapabilitas pertahanannya, serta tidak secara resmi mengakui jalur selatan bahkan untuk satu jam pun.