Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun bertahan di 5,09% pada perdagangan semalam, menandai 17 hari perdagangan beruntun di atas ambang 5% menurut Yonhap Infomax. Ini merupakan rangkaian terpanjang untuk periode seperti itu sejak Juli 2007, dengan imbal hasil 30 tahun menembus level 5% sebanyak 32 kali hanya tahun ini—jumlah kemunculan terbanyak dalam satu tahun sejak 2007. Imbal hasil yang tetap tinggi secara berkelanjutan mencerminkan meningkatnya permintaan term premium dari investor, bukan kekhawatiran inflasi, karena penerbitan utang pemerintah yang masif memperketat persaingan memperebutkan modal investor di antara ekonomi maju utama.
Rekor Imbal Hasil Treasury 30 Tahun: Rangkaian Terpanjang di Atas 5% Sejak 2007
Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun telah mempertahankan level di atas 5% selama 17 hari perdagangan berturut-turut pada perdagangan semalam, mencapai 5,09%. Ini menandai periode terpanjang secara berkelanjutan di atas ambang 5% sejak Juli 2007. Sepanjang tahun ini, imbal hasil 30 tahun telah menembus di atas 5% sebanyak total 32 kali, sehingga menetapkan rekor baru untuk kemunculan terbanyak dalam satu tahun sejak 2007.
Para ahli mencatat pola ini berbeda dari kejadian historis ketika obligasi berdurasi sangat panjang mengirim sinyal risiko ke pasar. Jika imbal hasil turun kembali di bawah 5%, sinyal risiko akan melemah, tetapi mempertahankan level di atas ambang ini secara terus-menerus menunjukkan bahwa garis resistance sebelumnya mulai terbentuk sebagai level penopang yang persisten.
Imbal Hasil Obligasi Global Naik di Tengah Penerbitan Utang dan Faktor Ekonomi
Kenaikan imbal hasil meluas di luar Amerika Serikat, dengan imbal hasil obligasi pemerintah yang naik di berbagai negara maju utama. Sejumlah faktor telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang lebih tinggi, termasuk kenaikan harga minyak, indikator ekonomi yang kuat, serta pertumbuhan berkelanjutan dalam level utang pemerintah. Penerbitan utang yang masif telah memperketat persaingan di antara pemerintah untuk mengamankan dana investor.
Term Premium Menggantikan Inflasi sebagai Pemicu Utama Kenaikan Imbal Hasil
Lonjakan imbal hasil AS baru-baru ini dipicu oleh faktor lain selain kekhawatiran inflasi. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun menembus level 4,70% pada akhir pekan lalu, melampaui rekor tertinggi Mei sebesar 4,68%. Saat imbal hasil 10 tahun mencapai puncak Mei, imbal hasil riil berada di 2,16% dengan tingkat inflasi impas (BEI) sebesar 2,5%.
Sebaliknya, pada akhir pekan lalu imbal hasil riil 10 tahun tercatat 2,42% sementara BEI berada di 2,26%. Data ini menunjukkan kekhawatiran inflasi memberikan pengaruh yang makin melemah terhadap imbal hasil nominal.
Yahoo Finance menganalisis bahwa “alih-alih kekhawatiran inflasi, term premium yang diminta investor sebagai kompensasi untuk meminjamkan uang berperan lebih besar. Hal ini memperketat persaingan antara saham dan obligasi pemerintah sekaligus meningkatkan biaya peminjaman bagi rumah tangga dan bisnis.”
Strategist Piper Sandler Soroti Rapat The Fed Juli sebagai Faktor Kunci
Michael Kantrowitz, Chief Strategist di Piper Sandler, mengatakan bahwa “isi rapat The Fed bulan Juli akan menjadi faktor yang menentukan dalam menentukan arah imbal hasil obligasi.”
FAQ
Apa yang terjadi pada imbal hasil US Treasury 30 tahun saat perdagangan semalam?
Imbal hasil US Treasury 30 tahun bertahan di 5,09% pada perdagangan semalam, menandai hari perdagangan ke-17 berturut-turut di atas ambang 5%. Ini merupakan rangkaian terpanjang secara berkelanjutan di atas 5% sejak Juli 2007, dengan imbal hasil menembus level tersebut sebanyak 32 kali sepanjang tahun berjalan—jumlah kemunculan terbanyak dalam satu tahun sejak 2007.
Mengapa imbal hasil US Treasury naik jika bukan karena kekhawatiran inflasi?
Kenaikan imbal hasil baru-baru ini terutama didorong oleh term premium, bukan kekhawatiran inflasi. Data menunjukkan bahwa sementara imbal hasil riil 10 tahun meningkat dari 2,16% pada Mei menjadi 2,42% pada akhir pekan lalu, tingkat inflasi impas turun dari 2,5% menjadi 2,26% pada periode yang sama, yang mengindikasikan investor menuntut kompensasi yang lebih tinggi untuk meminjamkan uang daripada mengantisipasi inflasi yang lebih tinggi.