Banyak orang merasa enggan berinvestasi, alasan utamanya adalah mereka tidak tahu harus mulai dari mana. Sebenarnya, membangun portofolio investasi pribadi tidaklah rumit, selama memahami beberapa prinsip inti, pemula pun bisa dengan mudah memulai.
Apa sebenarnya itu portofolio investasi pribadi?
Sederhananya, portofolio investasi pribadi adalah kumpulan berbagai aset keuangan yang kamu miliki secara bersamaan dengan proporsi tertentu. Aset-aset ini meliputi saham, reksa dana, obligasi, tabungan bank, bahkan mata uang kripto dan lain-lain. Membuat portofolio seperti ini memiliki satu tujuan utama—mengurangi risiko dan meningkatkan imbal hasil melalui diversifikasi aset.
Bayangkan jika kamu menaruh semua uangmu ke satu saham, begitu saham tersebut turun, kerugianmu akan sangat besar. Tapi jika uangmu dialokasikan ke berbagai instrumen seperti saham, reksa dana, obligasi, dan lain-lain, meskipun satu turun, keuntungan dari yang lain bisa menutupi kerugian tersebut. Inilah keunggulan dari portofolio investasi pribadi.
Singkatnya, membangun portofolio investasi pribadi sama seperti saat makan harus memperhatikan keseimbangan nutrisi—investasi juga harus beragam. Pertumbuhan keuangan yang sehat haruslah stabil dan bertahap, bukan fluktuasi ekstrem.
Faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan investasimu?
Saat kamu membangun portofolio investasi pribadi, tidak semua orang cocok dengan proporsi yang sama. Keputusan akhir akan dipengaruhi oleh beberapa faktor penting.
Pertimbangan pertama: Seberapa besar risiko yang bisa kamu tanggung?
Setiap orang memiliki sikap berbeda terhadap risiko. Ada yang berani mengambil risiko tinggi demi keuntungan besar, bahkan siap merugi; ada juga yang konservatif, lebih memilih melindungi modal daripada mengejar keuntungan besar. Perbedaan sikap ini akan menentukan apakah kamu termasuk investor yang risk-loving, risk-neutral, atau risk-averse.
Preferensi risiko ini langsung mempengaruhi proporsi aset dalam portofolio. Jika risk-loving, kamu mungkin akan menambah porsi saham dan reksa dana; jika risk-averse, cenderung menambah obligasi dan tabungan bank.
Pertimbangan kedua: Berapa usia kamu sekarang?
Usia adalah variabel kunci. Seorang pekerja berusia 28 tahun dan pensiunan berusia 65 tahun akan memiliki portofolio yang sangat berbeda.
Orang muda memiliki keunggulan dari segi waktu. Bahkan jika dalam satu tahun mengalami kerugian 30%, mereka masih punya waktu 20 tahun untuk bekerja dan mengembalikan kerugian tersebut. Oleh karena itu, investor muda bisa mengambil strategi yang lebih agresif, mengalokasikan lebih banyak ke aset berisiko tinggi dan berpotensi tinggi.
Sedangkan pensiunan tidak lagi memiliki penghasilan dari pekerjaan, sehingga tidak bisa mengandalkan waktu untuk memulihkan kerugian. Mereka harus lebih konservatif, fokus melindungi aset yang ada.
Pertimbangan ketiga: Karakteristik aset dan kondisi pasar saat ini
Ini sering diabaikan. Bahkan untuk aset yang sama, perbedaan antar jenisnya cukup besar. Misalnya, reksa dana pasar uang memiliki volatilitas rendah dan likuiditas tinggi, tetapi hasilnya terbatas; sedangkan indeks saham memiliki risiko dan imbal hasil yang lebih tinggi.
Selain itu, performa aset yang sama pun berbeda tergantung kondisi pasar. Di pasar berkembang, indeks saham reksa dana cenderung lebih berisiko dibanding pasar matang, karena pasar berkembang lebih sensitif terhadap geopolitik dan fluktuasi ekonomi. Dari data 2017-2020, ETF pasar berkembang (EEM.US) dan ETF zona Euro (EZU.US) keduanya naik saat pasar bullish, tetapi kenaikan pasar berkembang lebih besar. Namun saat pasar bearish 2020-2022, penurunan EEM (-15.5%) jauh lebih besar dibanding EZU (-5.8%), menunjukkan perbedaan risiko ini.
Apa saja skema alokasi portofolio pribadi yang umum?
Berdasarkan preferensi risiko, portofolio pribadi umumnya dibagi menjadi tiga tipe. Skema ini mempertimbangkan keseimbangan risiko dan imbal hasil:
Risk-loving: Saham 50%, Reksa dana 30%, Obligasi 15%, Tabungan bank 5%
Cocok untuk investor yang bersedia menerima fluktuasi besar demi keuntungan jangka panjang yang lebih tinggi.
Risk-neutral: Saham 35%, Reksa dana 35%, Obligasi 25%, Tabungan bank 5%
Merupakan skema yang cukup seimbang, risiko dan imbal hasil berada di tingkat sedang.
Risk-averse: Saham 20%, Reksa dana 40%, Obligasi 35%, Tabungan bank 5%
Fokus pada stabilitas, cocok untuk investor yang mengutamakan keamanan modal.
Kalau kemampuan risiko kamu sangat tinggi, bisa juga mengalokasikan tambahan dana sebesar 100-200 dolar dari portofolio tersebut untuk instrumen berisiko lebih tinggi, seperti forex atau mata uang kripto.
Selain alokasi antar aset, kamu juga bisa melakukan subdivisi dalam satu jenis aset. Misalnya, portofolio reksa dana bisa dibagi sebagai berikut:
Risk-loving: Reksa dana saham 60%, Reksa dana obligasi 30%, Reksa dana komoditas 10% Risk-neutral: Reksa dana saham 40%, Reksa dana obligasi 40%, Reksa dana komoditas 20% Risk-averse: Reksa dana saham 20%, Reksa dana obligasi 60%, Reksa dana komoditas 20%
Ingat satu prinsip investasi penting: Jangan pernah menaruh semua telur dalam satu keranjang. Strategi all-in adalah hal yang sangat tidak disarankan.
Bagaimana langkah demi langkah membangun portofolio investasi pribadi untuk pemula?
Langkah pertama: Pahami kemampuan risiko diri sendiri
Ini adalah langkah dasar. Banyak tersedia kuisioner online untuk mengukur preferensi risiko. Dengan menjawab serangkaian pertanyaan, kamu bisa mengetahui tipe investor seperti apa dirimu. Langkah ini tidak boleh dilewatkan karena langsung mempengaruhi seluruh keputusan alokasi selanjutnya.
Langkah kedua: Tentukan tujuan investasimu
Tujuan investasi biasanya dibagi menjadi tiga kategori:
Pertumbuhan kekayaan: Menetapkan target pertumbuhan tertentu, misalnya menggandakan aset dalam 5 tahun. Cocok untuk yang muda dan berani mengambil risiko.
Pelestarian kekayaan: Fokus utama adalah melindungi modal dan mengalahkan inflasi. Cocok untuk yang sudah puas dengan aset yang dimiliki atau sudah pensiun.
Likuiditas tinggi: Menekankan kemudahan akses dan ketersediaan dana kapan saja, biasanya melalui tabungan giro. Cocok untuk pengusaha dan mereka yang membutuhkan dana fleksibel.
Langkah ketiga: Pelajari karakteristik aset yang dipilih
Sebelum memulai, kenali dasar-dasar aset yang dipilih. Saham, reksa dana, obligasi, deposito bank—risiko, imbal hasil, dan likuiditasnya berbeda-beda. Pengetahuan ini akan membantu kamu membuat keputusan yang lebih bijak.
Misalnya, A adalah pekerja berusia 28 tahun, memiliki 1 juta NT$ dan ingin mulai berinvestasi.
Analisis preferensi risiko: Muda dan ingin kekayaan lebih, termasuk risk-loving.
Tentukan tujuan investasi: Dalam 5 tahun, menggandakan dari 1 juta menjadi 2 juta, target 100% pertumbuhan.
Pilih jenis aset: Saham, ETF, dan deposito bank.
Berdasarkan keputusan ini, skema alokasi A adalah:
Instrumen
Proporsi
Jumlah (NT$)
Saham
50%
50 juta
ETF
30%
30 juta
Deposito
10%
10 juta
Dana cadangan
10%
10 juta
Contoh ini mengingatkan pentingnya menyisihkan dana cadangan saat membangun portofolio, untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak.
Setelah alokasi awal, perlu dilakukan peninjauan secara berkala (misalnya setiap kuartal atau semester) dan penyesuaian sesuai kondisi pasar dan situasi pribadi. Pasar dan fase hidupmu akan berubah, portofolio harus mengikuti perubahan tersebut.
Apa yang perlu diperhatikan setelah mengatur portofolio?
Pahami berbagai risiko yang mungkin dihadapi
Pertama, siapkan mental: portofolio tidak menjamin keuntungan, bisa saja mengalami kerugian. Diversifikasi mengurangi risiko satu titik, tetapi tidak bisa menghilangkan risiko pasar secara total. Saat krisis ekonomi atau peristiwa black swan, seluruh pasar akan terdampak.
Selain risiko pasar, ada risiko industri, inflasi, suku bunga, dan lain-lain. Ada juga risiko dari diri sendiri—perilaku dan mental. Emosi yang tidak terkendali dan ketakutan bisa membuat keputusan buruk, bahkan lebih merugikan daripada fluktuasi pasar.
Cara mengurangi risiko secara praktis
Tentukan titik take profit dan cut loss: Tentukan target harga di awal, dan saat pasar bergejolak, patuhi batas tersebut agar tidak merugi terlalu besar.
Diversifikasi: Tambahkan berbagai jenis dan wilayah investasi untuk mengurangi dampak fluktuasi satu pasar atau industri tertentu. Ini adalah inti dari portofolio yang sehat.
Review dan sesuaikan secara rutin: Sesuaikan portofolio sesuai kondisi pasar dan situasi pribadi. Bahkan jika awalnya sudah optimal, perlu penyesuaian agar tetap seimbang.
Jaga kepala tetap rasional: Fluktuasi jangka pendek adalah hal biasa. Jangan panik saat pasar turun sebulan, percayalah pada rencana jangka panjang.
Manajemen emosi juga sangat penting
Setelah membangun portofolio, pengetahuan dan pengalaman penting, tetapi kemampuan mengendalikan emosi sama krusial. Bisa tetap tenang saat pasar panik dan tidak terlalu optimis saat pasar melonjak adalah kunci keberhasilan investasi jangka panjang.
Tanya jawab umum
Q: Uang sedikit bisa bikin portofolio?
A: Bisa banget. Kuncinya adalah memahami batas minimum investasi tiap aset. Di Taiwan, beberapa reksa dana minimal cuma 3000 NT$, CFD bahkan lebih rendah, cocok untuk investor kecil membangun portofolio.
Q: Setelah diatur, pasti untung?
A: Tidak selalu. Portofolio hanyalah alat untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil. Untuk benar-benar menambah kekayaan, diperlukan kondisi pasar yang mendukung dan analisis yang tepat terhadap aset yang dipilih. Perlu rutin dipantau dan disesuaikan.
Q: Berapa banyak pengetahuan yang harus dipelajari?
A: Cukup memahami dasar-dasar aset yang dipilih, prospek investasi, waktu beli/jual, serta mengembangkan kemampuan analisis.
Q: Kalau bingung, boleh tiru portofolio orang lain?
A: Boleh, tapi sebaiknya sesuaikan dengan tujuan dan profil risiko sendiri. Lebih baik konsultasi dengan penasihat keuangan agar portofolio sesuai kondisi pribadi.
Q: Setelah diatur, tinggal diam saja?
A: Tidak. Portofolio harus dievaluasi dan disesuaikan secara berkala. Kondisi pasar dan prospek aset bisa berubah, jadi perlu penyesuaian. Disarankan minimal setiap enam bulan sekali.
Intinya, membangun portofolio investasi pribadi adalah langkah penting bagi siapa saja yang ingin berinvestasi secara rasional. Ini bukan sekadar pengaturan aset, tetapi juga pola pikir dalam perencanaan keuangan. Mulai dari menilai risiko diri sendiri, menetapkan tujuan, dan terus menyesuaikan sesuai kondisi pasar, ini adalah proses berkelanjutan. Yang terpenting, segera mulai bertindak karena waktu adalah aset paling berharga dalam investasi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bagaimana cara membangun portofolio investasi pribadi? Panduan alokasi aset wajib dibaca untuk pemula
Banyak orang merasa enggan berinvestasi, alasan utamanya adalah mereka tidak tahu harus mulai dari mana. Sebenarnya, membangun portofolio investasi pribadi tidaklah rumit, selama memahami beberapa prinsip inti, pemula pun bisa dengan mudah memulai.
Apa sebenarnya itu portofolio investasi pribadi?
Sederhananya, portofolio investasi pribadi adalah kumpulan berbagai aset keuangan yang kamu miliki secara bersamaan dengan proporsi tertentu. Aset-aset ini meliputi saham, reksa dana, obligasi, tabungan bank, bahkan mata uang kripto dan lain-lain. Membuat portofolio seperti ini memiliki satu tujuan utama—mengurangi risiko dan meningkatkan imbal hasil melalui diversifikasi aset.
Bayangkan jika kamu menaruh semua uangmu ke satu saham, begitu saham tersebut turun, kerugianmu akan sangat besar. Tapi jika uangmu dialokasikan ke berbagai instrumen seperti saham, reksa dana, obligasi, dan lain-lain, meskipun satu turun, keuntungan dari yang lain bisa menutupi kerugian tersebut. Inilah keunggulan dari portofolio investasi pribadi.
Singkatnya, membangun portofolio investasi pribadi sama seperti saat makan harus memperhatikan keseimbangan nutrisi—investasi juga harus beragam. Pertumbuhan keuangan yang sehat haruslah stabil dan bertahap, bukan fluktuasi ekstrem.
Faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan investasimu?
Saat kamu membangun portofolio investasi pribadi, tidak semua orang cocok dengan proporsi yang sama. Keputusan akhir akan dipengaruhi oleh beberapa faktor penting.
Pertimbangan pertama: Seberapa besar risiko yang bisa kamu tanggung?
Setiap orang memiliki sikap berbeda terhadap risiko. Ada yang berani mengambil risiko tinggi demi keuntungan besar, bahkan siap merugi; ada juga yang konservatif, lebih memilih melindungi modal daripada mengejar keuntungan besar. Perbedaan sikap ini akan menentukan apakah kamu termasuk investor yang risk-loving, risk-neutral, atau risk-averse.
Preferensi risiko ini langsung mempengaruhi proporsi aset dalam portofolio. Jika risk-loving, kamu mungkin akan menambah porsi saham dan reksa dana; jika risk-averse, cenderung menambah obligasi dan tabungan bank.
Pertimbangan kedua: Berapa usia kamu sekarang?
Usia adalah variabel kunci. Seorang pekerja berusia 28 tahun dan pensiunan berusia 65 tahun akan memiliki portofolio yang sangat berbeda.
Orang muda memiliki keunggulan dari segi waktu. Bahkan jika dalam satu tahun mengalami kerugian 30%, mereka masih punya waktu 20 tahun untuk bekerja dan mengembalikan kerugian tersebut. Oleh karena itu, investor muda bisa mengambil strategi yang lebih agresif, mengalokasikan lebih banyak ke aset berisiko tinggi dan berpotensi tinggi.
Sedangkan pensiunan tidak lagi memiliki penghasilan dari pekerjaan, sehingga tidak bisa mengandalkan waktu untuk memulihkan kerugian. Mereka harus lebih konservatif, fokus melindungi aset yang ada.
Pertimbangan ketiga: Karakteristik aset dan kondisi pasar saat ini
Ini sering diabaikan. Bahkan untuk aset yang sama, perbedaan antar jenisnya cukup besar. Misalnya, reksa dana pasar uang memiliki volatilitas rendah dan likuiditas tinggi, tetapi hasilnya terbatas; sedangkan indeks saham memiliki risiko dan imbal hasil yang lebih tinggi.
Selain itu, performa aset yang sama pun berbeda tergantung kondisi pasar. Di pasar berkembang, indeks saham reksa dana cenderung lebih berisiko dibanding pasar matang, karena pasar berkembang lebih sensitif terhadap geopolitik dan fluktuasi ekonomi. Dari data 2017-2020, ETF pasar berkembang (EEM.US) dan ETF zona Euro (EZU.US) keduanya naik saat pasar bullish, tetapi kenaikan pasar berkembang lebih besar. Namun saat pasar bearish 2020-2022, penurunan EEM (-15.5%) jauh lebih besar dibanding EZU (-5.8%), menunjukkan perbedaan risiko ini.
Apa saja skema alokasi portofolio pribadi yang umum?
Berdasarkan preferensi risiko, portofolio pribadi umumnya dibagi menjadi tiga tipe. Skema ini mempertimbangkan keseimbangan risiko dan imbal hasil:
Risk-loving: Saham 50%, Reksa dana 30%, Obligasi 15%, Tabungan bank 5%
Cocok untuk investor yang bersedia menerima fluktuasi besar demi keuntungan jangka panjang yang lebih tinggi.
Risk-neutral: Saham 35%, Reksa dana 35%, Obligasi 25%, Tabungan bank 5%
Merupakan skema yang cukup seimbang, risiko dan imbal hasil berada di tingkat sedang.
Risk-averse: Saham 20%, Reksa dana 40%, Obligasi 35%, Tabungan bank 5%
Fokus pada stabilitas, cocok untuk investor yang mengutamakan keamanan modal.
Kalau kemampuan risiko kamu sangat tinggi, bisa juga mengalokasikan tambahan dana sebesar 100-200 dolar dari portofolio tersebut untuk instrumen berisiko lebih tinggi, seperti forex atau mata uang kripto.
Selain alokasi antar aset, kamu juga bisa melakukan subdivisi dalam satu jenis aset. Misalnya, portofolio reksa dana bisa dibagi sebagai berikut:
Risk-loving: Reksa dana saham 60%, Reksa dana obligasi 30%, Reksa dana komoditas 10%
Risk-neutral: Reksa dana saham 40%, Reksa dana obligasi 40%, Reksa dana komoditas 20%
Risk-averse: Reksa dana saham 20%, Reksa dana obligasi 60%, Reksa dana komoditas 20%
Ingat satu prinsip investasi penting: Jangan pernah menaruh semua telur dalam satu keranjang. Strategi all-in adalah hal yang sangat tidak disarankan.
Bagaimana langkah demi langkah membangun portofolio investasi pribadi untuk pemula?
Langkah pertama: Pahami kemampuan risiko diri sendiri
Ini adalah langkah dasar. Banyak tersedia kuisioner online untuk mengukur preferensi risiko. Dengan menjawab serangkaian pertanyaan, kamu bisa mengetahui tipe investor seperti apa dirimu. Langkah ini tidak boleh dilewatkan karena langsung mempengaruhi seluruh keputusan alokasi selanjutnya.
Langkah kedua: Tentukan tujuan investasimu
Tujuan investasi biasanya dibagi menjadi tiga kategori:
Pertumbuhan kekayaan: Menetapkan target pertumbuhan tertentu, misalnya menggandakan aset dalam 5 tahun. Cocok untuk yang muda dan berani mengambil risiko.
Pelestarian kekayaan: Fokus utama adalah melindungi modal dan mengalahkan inflasi. Cocok untuk yang sudah puas dengan aset yang dimiliki atau sudah pensiun.
Likuiditas tinggi: Menekankan kemudahan akses dan ketersediaan dana kapan saja, biasanya melalui tabungan giro. Cocok untuk pengusaha dan mereka yang membutuhkan dana fleksibel.
Langkah ketiga: Pelajari karakteristik aset yang dipilih
Sebelum memulai, kenali dasar-dasar aset yang dipilih. Saham, reksa dana, obligasi, deposito bank—risiko, imbal hasil, dan likuiditasnya berbeda-beda. Pengetahuan ini akan membantu kamu membuat keputusan yang lebih bijak.
Langkah keempat: Alokasikan portofolio investasimu
Mari kita gunakan contoh nyata untuk ilustrasi.
Misalnya, A adalah pekerja berusia 28 tahun, memiliki 1 juta NT$ dan ingin mulai berinvestasi.
Analisis preferensi risiko: Muda dan ingin kekayaan lebih, termasuk risk-loving.
Tentukan tujuan investasi: Dalam 5 tahun, menggandakan dari 1 juta menjadi 2 juta, target 100% pertumbuhan.
Pilih jenis aset: Saham, ETF, dan deposito bank.
Berdasarkan keputusan ini, skema alokasi A adalah:
Contoh ini mengingatkan pentingnya menyisihkan dana cadangan saat membangun portofolio, untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak.
Setelah alokasi awal, perlu dilakukan peninjauan secara berkala (misalnya setiap kuartal atau semester) dan penyesuaian sesuai kondisi pasar dan situasi pribadi. Pasar dan fase hidupmu akan berubah, portofolio harus mengikuti perubahan tersebut.
Apa yang perlu diperhatikan setelah mengatur portofolio?
Pahami berbagai risiko yang mungkin dihadapi
Pertama, siapkan mental: portofolio tidak menjamin keuntungan, bisa saja mengalami kerugian. Diversifikasi mengurangi risiko satu titik, tetapi tidak bisa menghilangkan risiko pasar secara total. Saat krisis ekonomi atau peristiwa black swan, seluruh pasar akan terdampak.
Selain risiko pasar, ada risiko industri, inflasi, suku bunga, dan lain-lain. Ada juga risiko dari diri sendiri—perilaku dan mental. Emosi yang tidak terkendali dan ketakutan bisa membuat keputusan buruk, bahkan lebih merugikan daripada fluktuasi pasar.
Cara mengurangi risiko secara praktis
Tentukan titik take profit dan cut loss: Tentukan target harga di awal, dan saat pasar bergejolak, patuhi batas tersebut agar tidak merugi terlalu besar.
Diversifikasi: Tambahkan berbagai jenis dan wilayah investasi untuk mengurangi dampak fluktuasi satu pasar atau industri tertentu. Ini adalah inti dari portofolio yang sehat.
Review dan sesuaikan secara rutin: Sesuaikan portofolio sesuai kondisi pasar dan situasi pribadi. Bahkan jika awalnya sudah optimal, perlu penyesuaian agar tetap seimbang.
Jaga kepala tetap rasional: Fluktuasi jangka pendek adalah hal biasa. Jangan panik saat pasar turun sebulan, percayalah pada rencana jangka panjang.
Manajemen emosi juga sangat penting
Setelah membangun portofolio, pengetahuan dan pengalaman penting, tetapi kemampuan mengendalikan emosi sama krusial. Bisa tetap tenang saat pasar panik dan tidak terlalu optimis saat pasar melonjak adalah kunci keberhasilan investasi jangka panjang.
Tanya jawab umum
Q: Uang sedikit bisa bikin portofolio?
A: Bisa banget. Kuncinya adalah memahami batas minimum investasi tiap aset. Di Taiwan, beberapa reksa dana minimal cuma 3000 NT$, CFD bahkan lebih rendah, cocok untuk investor kecil membangun portofolio.
Q: Setelah diatur, pasti untung?
A: Tidak selalu. Portofolio hanyalah alat untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil. Untuk benar-benar menambah kekayaan, diperlukan kondisi pasar yang mendukung dan analisis yang tepat terhadap aset yang dipilih. Perlu rutin dipantau dan disesuaikan.
Q: Berapa banyak pengetahuan yang harus dipelajari?
A: Cukup memahami dasar-dasar aset yang dipilih, prospek investasi, waktu beli/jual, serta mengembangkan kemampuan analisis.
Q: Kalau bingung, boleh tiru portofolio orang lain?
A: Boleh, tapi sebaiknya sesuaikan dengan tujuan dan profil risiko sendiri. Lebih baik konsultasi dengan penasihat keuangan agar portofolio sesuai kondisi pribadi.
Q: Setelah diatur, tinggal diam saja?
A: Tidak. Portofolio harus dievaluasi dan disesuaikan secara berkala. Kondisi pasar dan prospek aset bisa berubah, jadi perlu penyesuaian. Disarankan minimal setiap enam bulan sekali.
Intinya, membangun portofolio investasi pribadi adalah langkah penting bagi siapa saja yang ingin berinvestasi secara rasional. Ini bukan sekadar pengaturan aset, tetapi juga pola pikir dalam perencanaan keuangan. Mulai dari menilai risiko diri sendiri, menetapkan tujuan, dan terus menyesuaikan sesuai kondisi pasar, ini adalah proses berkelanjutan. Yang terpenting, segera mulai bertindak karena waktu adalah aset paling berharga dalam investasi.