Menurut KB Kookmin Bank, bank terbesar di Korea Selatan, bank mulai membatasi pinjaman hipotek pembelian rumah hingga maksimal 300 juta won secara nasional mulai 10 Juli, sehingga menimbulkan krisis likuiditas bagi calon pembeli rumah yang bersiap membayar cicilan terakhir. Permintaan melonjak di agen real estat di distrik utara Seoul, tempat para peminjam kesulitan menutup uang muka setelah menggadaikan uang pendahuluan sebesar 50 juta won. Analisis menunjukkan bahwa pinjaman menyumbang 40% dari pembelian rumah oleh masyarakat usia 30-an, meningkat menjadi 60% di beberapa area seperti distrik Nowon dan Jungnang, yang mengindikasikan potensi penurunan transaksi di pasar apartemen berharga menengah hingga rendah.
Sementara itu, Pemerintah Kota Seoul mempercepat pasokan perumahan dengan menaikkan kepala administrator yang mengawasi proyek konstruksi ke level wakil wali kota serta menyederhanakan proses perizinan dari pihak kota. Sebagai bagian dari upaya mencapai 310.000 unit hunian pada 2031, Seoul menargetkan peluncuran konstruksi lebih awal untuk 85 proyek yang melibatkan 85.000 unit yang saat ini berada dalam persetujuan rencana pengelolaan dan fase relokasi. Perusahaan konstruksi mempercepat penerbitan obligasi swasta, dengan penempatan obligasi swasta pada 2026 mencapai 9,468 triliun won hingga paruh pertama, sementara ketidakpastian di pasar obligasi publik masih berlanjut.